Jumat, 02 Oktober 2015
Manusia Post Modern
Dengan berkembangnya New Media saat ini membuat masyarakat semakin sulit untuk mengenal lingkungan sosialnya. Perilaku manusia sebagai makhluk sosial sudah tergerus dengan perkembangan New Media yang menawarkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan manusia sehingga New Media "lebih dekat" dibanding keberadaan manusia disekelilingnya. Itulah Manusia Postmodern.
Menurut saya, fenomena tersebut memang benar dan saat ini tengah di rasakan oleh masyarakat khususnya yang tinggal di kota - kota besar. " Dunia dalam genggamanmu" adalah kalimat yang saat ini dirasakan oleh generasi di era new media. Dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat, saat ini gadget semakin memberikan penawaran untuk mempermudah manusia dalam melakukan apapun. Misalnya, dengan menggunakan aplikasi KAI Access, kita tidak perlu lagi datang ke Stasiun atau bahkan mengantri untuk membeli tiket, kita bisa membeli tiket jenis apapun dan kapanpun melalui gadget. Dengan adanya aplikasi Gojek, kita tidak perlu berjalan kaki untuk mencari ojek, hanya dengan aplikasi tersebut kita sudah mendapatkan fasilitas antar/jemput, bahkan untuk mengantar makanan sekalipun, sehingga kita tidak perlu pergi ke warung untuk membeli makan. Tetapi, manfaat dari perkembangan teknologi tersebut, saat ini justru membuat masyarakat lebih individualis dan susah untuk mengenal lingkungan sosialnya. Fenomena lain yang terjadi saat ini adalah " Gadget, mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.", misalnya, lima orang berkumpul di suatu cafe, mustahil apabila ke lima orang tersebut tidak asyik dengan gadgetnya masing-masing, hal inilah yang membuat gadget menjauhkan yang dekat, walaupun disisi lain, perkembangan teknologi saat ini bisa digunakan untuk mendekatkan yang jauh, misalnya seorang kawan yang bertahun - tahun tidak pernah bertemu khirnya bisa berkomunikasi kembali dengan menggunakan aplikasi facebook, Twitter atau yang lainnya. Tentu kita sebagai makhluk sosial harus bisa memilah - milih, kapan kita harus berinteraksi dengan lingkungan sosial, atau kapan kita harus berinteraksi dengan gadget kita masih-masing, karena kita tidak bisa terlepas dari lingkungan sosial. Perkembangan teknologi di era new media memiliki dampak postive dan negative bagi kita, yang perlu kita lakukan saat ini adalah menyaring perkembangan teknologi yang berkembang pesat, dan tidak meninggalkan lingkungan sosial.
Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi pada akhirnya mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup, dan khalayak. Sederhananya, adanya konvergensi media ini memberi dampak yang sangat signifikan di masyarakat Indonesia dimana pola konsumsi dan produksi mulai berubah, sehingga hal ini memberi dampak pula pada sistem ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan
Tahap Kehidupan
Menjalani tahap demi tahap kehidupan, sayangnya memang tak seindah yang kita kira. Kerikil selalu ada disetiap tempat, dan disitulah kita diuji sebagai layaknya seorang manusia.
Syukur yang mendalam tentu selalu saya panjatkan, saya bisa lulus lebih dulu dengan predikat cumlaude, mungkin orang tua saya bangga dengan hal tersebut. Tapi sebentar, rasanya saya tidak ingin melaju terlalu cepat :'D. Tawa, canda teman- teman mahasiswa masih terngiang dimata saya. Betapa bahagianya, kebiasaan pagi yang menegangkan bersama kawan, lari-lari menuju ruangan dengan tentengan sari roti dan ultramilk di setiap jam 7 pagi. Rasanya saya masih ingin dengan hal yang seperti itu.
Mereka, bahkan terlalu baik kalau sekedar menjadi teman saya.
Belum lagi rekan - rekan satu pekerjaan yang selalu ada untuk saya. Rasanya pusing saat mengerjakan tugas kuliah pun menjadi enteng. Hampir setiap hari setiap jam satu siang, keluar kelas saya langsung bergegas menuju ke halte damri untuk berangkat siaran. Ya kurang lebih sekitar satu jam dari kampus untuk menuju ke TVRI. Sedikit berat, tapi menyenangkan. lari-larian antara tugas kuliah dan tugas kantor, saya masih rindu kala itu.
Tapi ya memang begini lah tahap demi tahap kehidupan yang harus dijalani. Tempat baru, suasana baru, yang muungkin masih sangat asing untuk kita...
Syukur yang mendalam tentu selalu saya panjatkan, saya bisa lulus lebih dulu dengan predikat cumlaude, mungkin orang tua saya bangga dengan hal tersebut. Tapi sebentar, rasanya saya tidak ingin melaju terlalu cepat :'D. Tawa, canda teman- teman mahasiswa masih terngiang dimata saya. Betapa bahagianya, kebiasaan pagi yang menegangkan bersama kawan, lari-lari menuju ruangan dengan tentengan sari roti dan ultramilk di setiap jam 7 pagi. Rasanya saya masih ingin dengan hal yang seperti itu.
Mereka, bahkan terlalu baik kalau sekedar menjadi teman saya.
Belum lagi rekan - rekan satu pekerjaan yang selalu ada untuk saya. Rasanya pusing saat mengerjakan tugas kuliah pun menjadi enteng. Hampir setiap hari setiap jam satu siang, keluar kelas saya langsung bergegas menuju ke halte damri untuk berangkat siaran. Ya kurang lebih sekitar satu jam dari kampus untuk menuju ke TVRI. Sedikit berat, tapi menyenangkan. lari-larian antara tugas kuliah dan tugas kantor, saya masih rindu kala itu.
Tapi ya memang begini lah tahap demi tahap kehidupan yang harus dijalani. Tempat baru, suasana baru, yang muungkin masih sangat asing untuk kita...
Sepenggal kisah lanjutan
It can be difficult to leave a long term relationship, even when our inner-wisdom tells us it's time to let go. At this point, we can choose let go and endure the intense pain of leaving behind the familiar to make way for a new chapter in our life. Or we can stay and suffer a low-grade pain that slowly eats away at our heart and soul, like an emotional cancer. Until we wake up, one day and realize we are so buried deep in the relationship.
Sebenernya kalau ngomongin soal cinta apalagi relationship, saya masih kurang faham. Definisi cinta itu seperti apa, pun saya kurang tau.
yang saya rasakan saat ini, saya belum mau mengenal betul apa itu cinta dan bagaimana cinta itu. Cukup tau tentang apa yang hati rasakan menurut saya itu cukup. Dulu saya sangat cinta dengan seseorang, tapi kok lama - lama cinta tersebut membuat saya buta, bukan saya ingin bahagia bersama, tapi saya ingin membuat dia bahagia. Lantas saya menghalalkan segala cara supaya dia bahagia. Saya tahu hal tersebut memang tidak benar, tapi saya juga tidak bisa menolak, anehnya semakin saya tidak ingin berfikir tentang cinta, semakin saya merasakan apa itu cinta.
Seseorang begitu rela mengorbankan apapun demi saya. Bahkan rela mengorbankan sebagian besar waktnya untuk saya. Kalau sudah besar nanti, saya hanya ingin menikah dengan dia. Pacar saya waktu SMA.
Sebenernya kalau ngomongin soal cinta apalagi relationship, saya masih kurang faham. Definisi cinta itu seperti apa, pun saya kurang tau.
yang saya rasakan saat ini, saya belum mau mengenal betul apa itu cinta dan bagaimana cinta itu. Cukup tau tentang apa yang hati rasakan menurut saya itu cukup. Dulu saya sangat cinta dengan seseorang, tapi kok lama - lama cinta tersebut membuat saya buta, bukan saya ingin bahagia bersama, tapi saya ingin membuat dia bahagia. Lantas saya menghalalkan segala cara supaya dia bahagia. Saya tahu hal tersebut memang tidak benar, tapi saya juga tidak bisa menolak, anehnya semakin saya tidak ingin berfikir tentang cinta, semakin saya merasakan apa itu cinta.
Seseorang begitu rela mengorbankan apapun demi saya. Bahkan rela mengorbankan sebagian besar waktnya untuk saya. Kalau sudah besar nanti, saya hanya ingin menikah dengan dia. Pacar saya waktu SMA.


