Senin, 29 Agustus 2011
Tentang Sebuah " penantian "
Kucuba kuatkan hati, mesti tiada harapan pasti yang engkau berikan. Kucuba bersabar menahan gejolak di dada, meski sering kali engkau memilih diam. Karena sulit bagiku untuk melupakanmu dan jiwaku hanya tentram ketika menyebut namamu, bukan yang lain.
Sempat juga aku berpikir untuk menanyakan sebuah kepastian, “apakah masih ada harapan untukku memilikimu?” Namun, aku tak sanggup menderamu dengan pertanyaan berat ini. Aku tak ingin hadirkan beban dalam hatimu sehingga engkaupun tak bisa konsentrasi bekerja. Padahal posisimu saat ini, membutuhkan energi ekstra dan fokus berlipat ganda.
Sebuah penantian yang saaat ini juga sedang aku jalani ….
penantian akan sebuah jawaban yang mungkin saat ini aku bisa mengerti…
penantian sebuah kepastian yang mungkin sudah dapat aku pastikan seperti apa jawabannya
Cinta memang tidak akan pernah bisa di paksa … seberapa besar aku mencoba untuk menghilangkan cinta dalam hatiku, dia akan semakin masuk ke dalam jiwaku … dan jika aku membiarkan cinta itu tumbuh subur hanya akan menyakiti diriku.
Penantian yang membuat aku sakit, selalu terjadi dalam hatiku … hanya saja untuk sekali ini aku merasakan bahwa penantian ini begitu panjang dan lama. Aku hanya bisa menunggu dalam diam dan dalam doa, aku hanya bisa berharap dan berharap bahwa suatu hari penantian ini akan berakhir dan menjadikan aku wanita paling bahagia dalam dunia ini
Kutahan gelisah, meski wajahmu seringkali datang menghampiri jiwa. Kukuatkan kesabaran dalam penantian tanpa kepastian. Cukuplah dirimu di hatiku saat ini, karena engkaulah yang hadirkan ketenangan. Bukan yang lain, yang seringkali lewat ucapan dan pintanya mendera pikiranku. Mereka menghampiriku, kemudian membunuhku perlahan.
Beda dengan dirimu, sapaanmu telah hadirkan berjuta inspirasi. Senyummu kobarkan semangat membara. Tanpa harus berkamuflase dengan kata-kata manis dan tampilan bertopeng menampakkan diri pintar ataupun cantik. Citra yang bisa dibuat-buat hanya sekejap mata. Hingga orangpun terpukau, terlena dengan rayuannya.
Tapi tidak dengan dirimu. Aku mengenalmu cukup lama. Aku telah mendengar cerita jelek tentang dirimu. Setiap aku melihatmu dan memperhatikanmu selama ini. Hingga aku tahu bagaimana engkau berjalan, bagaimana lirikan mata, dan tawa lepasmu. Semua pesonamu kusaksikan tanpa kamuflase kebohongan.
Biarkanpun mencintaimu membuat aku terluka, tapi tiadapun perih yang tersisa. Aku tetap menunggu, sampai waktu, penantian itu tak lagi berguna. Aku tak takut, jika engkau nanti memilih ntuk pergi. Aku sudah siap dengan segala konsekuensi.
Meski sering kutemukan para pemuda yang terlalu mengagungkan cinta pertamanya ditolak oleh para wanita ketika mencoba mencari penganti, tapi aku tak khawatir hal itu terjadi padaku. Takdir yang mempertemukanku denganmu dan hadirkan cinta di hatiku. Dan biarkanlah takdir juga yang menjawab semua akhir dari kisah cintaku ini. Seperti apapun, aku rela menerima…

